Rabu, 15 Juni 2011

GARIS IMAJINER



            Garis imajiner adalah garis khayal yang menjadi acuan bagi cameraman  dalam mengambil gambar. Jika cameraman menyeberangi garis imajiner maka gambar akan memberikan informasi yang salah. Untuk menentukan garis imajiner cameraman harus menentukan dahulu shot utama yang akan diambil. Pada gambar di bawah menunjukkan posisi kamera kesatu sebagai shot utama. Garis khayal di antara dua subyek yang berhadapan menjadi garis imajiner sehingga jika cameraman mengambil gambar pada posisi kamera dua dan tiga, maka shot yang diambil dari posisi camera satu, dua dan tiga merupakan rangkaian shot yang dapat disambung menjadi sekuen. Sedangkan shot yang diambil dari posisi empat dan lima tidak dapat disambung karena melanggar atau menyeberangi garis imajiner.


                        Ketika cameraman mengambil gambar dari obyek yang sedang bergerak maka pada dasarnya obyek itu memiliki arah gerakan atau ke arah mana obyek itu bergerak dan gerakan tersebut bisa menjadi acuan sebagai garis arah gerakan (garis imajiner untuk obyek bergerak). Misalnya cameraman mengambil gambar  mobil yang sedang berjalan, maka yang menjadi acuan garis arah gerakan adalah ke mana arah mobil tersebut bergerak. Pada shot yang diambil dari posisi A, mobil bergerak dari kanan ke kiri, namun pada posisi B mobil akan nampak berubah arah yaitu bergerak dari kiri ke kanan. Shot yang dihasilkan dari posisi B memberikan kontradiksi dan kejanggalan karena cameraman menyeberangi garis arah gerakan. Jika kedua shot disambung maka akan memberi kesan kedua mobil tersebut akan bertabrakan.


                     Pengambilan gambar yang menyeberangi garis imajiner dapat membingungkan penonton, namun cameraman dapat menghindarinya dengan menyisipkan sebuah gambar  netral  yang dapat diambil dari garis imajiner.
  Shot A tidak dapat disambung dengan shot B karena perbedaan arah lompatan kuda. Agar kedua gambar tersebut dapat disambung maka perlu gambar perantara (bridging) yaitu gambar C yang menunjukan terjadinya perubahan arah.



Sumbu percakapan (convertion axis, axis of action)
Apabila dua buah kamera mengambil gambar dua orang yang sedang berbincang-bincang, posisi kamera harus diletakkan pada satu bagian sumbu percakapan yang menghubungkan kedua orang tersebut. Sehingga garis kamera pertama dengan orang pertama dan garis kamera kedua dengan orang kedua akan membentuk garis potong, selanjutnya kedua garis potong tersebut akan membentuk segitiga dengan sumbu percakapan.




Aturan 180 derajat

Aturan 180 derajat merupakan rumusan yang bisa digunakan oleh cameraman ketika akan membuat kesinambungan antar shot dalam suatu adegan. Yang dinamakan “line” adalah garis imajiner atau garis khayal atau imaginary line. Garis imajiner merupakan garis pembatas kanan dan kiri 180 derajat. Metode ini berlaku untuk penggunaan pada produksi single kamera atau multi kamera. Jika garis ini dilanggar atau crossing the line maka :
  1. Bisa mengakibatkan terpecahnya perhatian penonton.
  2. Bisa merusak continuitas yang telah terbentuk.


FRAMING



Framing adalah penempatan obyek dalam bingkai layar televisi. Framing sangat penting untuk mendapatkan gambar yang seimbang serta enak untuk dilihat. Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam framing adalah :




Nose room disebut juga looking room yaitu ruang yang memberikan jarak di depan hidung atau mata dengan tepi frame. Hal ini penting untuk mengindari kesan tertumpuk pada garis bingkai.
                                           





Head room adalah jarak antara kepala dengan bingkai (frame) atas, agar obyek tidak terlihat tenggelam atau over lap dengan tepi bingkai atas.



                                                


3.    Walking Room yaitu apabila kamera panning untuk mengikuti obyek yang berjalan, di depan obyek harus ada ruang kosong, ruang kosong inilah yang disebut sebagai walking room.



4.    Untuk pembicara tunggal yang berbicara didepan kamera sebaiknya gambar diletak       kan ditengah-tengah frame.




is
5.    Memperhatikan keseimbangan, maksudnya adalah obyek dalam bingkai gambar nampak berimbang posisinya dengan perimbangan rasio layar 2/5 sampai dengan 3/5 atau 1/3 sampai dengan 2/3 seperti gambar dibawah ini.




6.    Untuk obyek manusia jangan memotong bagian tubuh yang tidak realistis, misalnya bagian tangan atau wajah.





7.    Background yang terlalu ramai akan mengganggu pada obyek pokoknya, karena itu harus dipisahkan dengan obyek pokoknya.




8.    Jangan menempatkan subyek-subyek yang penting ditepi frame apalagi sampai terpotong.








      9.   Menempatkan properti harus diperhitungkan sebaik-baiknya agar tidak mengganggu       gambar.

                               
10.Bila mengambil gambar dengan close up pada bagian kepala, lebih baik jika komposisi gambarnya memotong sedikit bagian atas kepala, sehingga tidak menimbulkan kesan subyek terlihat tenggelam.





11. Jika terjadi perbedaan mencolok bagi kedua obyek maka obyek tersebut harus diatur agar nampak seimbang. Misalkan ada seorang anak yang sedang berbicara kepada orang yang tinggi badannya, akan lebih baik gambarnya jika orang tersebut menunduk atau jongkok didepan anak kecil tersebut.



12.Bila ingin mengambil obyek dalam kelompok maka obyek tersebut dapat diatur dalam susunan triangular, semicular, dan circular.






Framing tidak dapat terlepas dari komposisi karena komposisi merupakan bagian dari teknik framing.

EDITING



1.      Pengertian
a.      Memilih shot yang dikehendaki
b.      Menentukan durasi film
c.       Menentukan titik pemotongan
d.      Menentukan jenis transisi yang sesuai
e.      Menciptakan kontinuitas yang baik
2.      Teknik Editing
a.      Live on tape : acara yang diproduksi direkam secara terus menerus (siaran langsung), pelaksanaan editingnya menggunakan vision mixer.
b.      Retakes : pengulangan pengambilan gambar.
c.       Rekaman bagian demi bagian : acara yang direkam sequence demi sequence sesuai dengan breakdown script yang telah dibuat.
d.      Single source recording : gambar yang dihasilkan dari beberapa kamera, dimana setiap kamera merekam sendiri-sendiri dari acaranya, penyelesaiannya dilakukan pada saat post production.
3.      Jenis Editing
a.      Continuity edting : antar shot memiliki hubungan langsung misal dialog antara dua orang.
b.      Relational editing : antar shot tidak memiliki hubungan secara langsung tapi bila disatukan akan nampak hubungan satu dengan lainnya.
c.       Dynamic editing : hubungan antar shot menciptakan suasana dramatik dan akan diketahui pada ending cerita.


METODE DASAR TEKNIK SWITCHING ( TRANSISI )
Transisi adalah metode yang digunakan untuk menghubungkan dari satu gambar ke gambar lainnya (Peter Utz 1990:364).
Ketika gambar berubah harus ada alasan untuk perubahan tersebut, diantaranya adalah :
1.    Adanya hal yang baru.
2.      Ketika perpindahan pengambilan gambar.
3.       Ketika subjek menyampaikan sesuatu.
4.      Ketika terjadi perubahan sudut pandang kamera.
5.      Ketika kamera semakin dekat atau menjauh dari objek.

          Dalam teknik editing, ada 3 jenis transisi, yaitu :
1.    Cut                                                                  
Cut adalah proses pergantian gambar antara satu shot ke shot berikut secara tiba-tiba, sehingga perpindahannya tidak dirasakan oleh pemirsa, merupakan transisi yang lazim dipakai dalam sebuah acara. Dari ketiga transisi yang ada, cut lebih mudah diterima oleh penonton sebagai sesuatu yang menggambarkan kenyataan.

Cut digunakan jika :
a. Menunjukkan peristiwa sedang terjadi.
b.       Apabila terjadi perubahan informasi.
c.      Apabila terjadi perubahan lokasi kejadian.

2.    Mix
Mix atau dissolve adalah proses pergantian gambar dari satu shot ke shot berikutnya dimana masa-masa pergantian tersebut bisa dirasakan oleh pemirsa, merupakan overlapping dua gambar, di mana pada saat gambar yang satu mulai menghilang, gambar berikutnya mulai muncul.

Mix digunakan jika terjadi perubahan waktu dan lokasi kejadian, selain itu juga untuk menunjukkan adanya hubungan yang dekat antara gambar yang menghilang dengan gambar yang muncul.
Seperti dalam cut, mengaplikasikan mix juga didasari enam elemen editing.
3.    Fade
Fade adalah pergantian gambar yang sedikit demi sedikit dari ada gambar menjadi blank (tidak ada gambar), atau dari blank menjadi ada gambar.
                    a. Fade In
                                Fade in adalah pemunculan gambar di layar kaca dari blank (tidak ada gambar) menjadi ada gambar secara perlahan-lahan, biasa digunakan saat awal suatu acara atau scene.


Fade in digunakan pada awal acara dan scene, selain itu juga digunakan jika terjadi perubahan waktu dan lokasi kejadian.

                    b. Fade Out
                                Fade out adalah gambar yang berangsur-angsur menghilang menjadi blank (tidak ada gambar), biasa digunakan pada saat akhir suatu acara atau scene

            Fade out digunakan pada akhir acara dan scene, selain itu juga digunakan jika terjadi perubahan waktu dan lokasi kejadian.
            Penggunaan fade in dan fade out harus memperhatikan tiga elemen editing, yaitu motivation, composition, dan sound.





CARA MENYIMPAN KASET



1.      Hindarkan kaset terkena sinar matahari langsung ( jauhkan dari pemanas ).
2.      Kaset video jangan disimpan di tempat berudara panas, berdebu atau medan electromagnet misalnya loudspeaker, pesawat TV, microwave oven atau apapun yang bermuatan motor listrik.
3.      Jangan membuka pelindung kaset atau menyentuh permukaan pita, apalagi menariknya.
4.      Hindari penyimpanan kaset di tempat basah.
5.      Jangan meletakkan kaset terbalik.
6.      Setelah penggunaan, masukkan kaset pada tempatnya.
7.      Kaset video dilengkapi selot pengaman. Agar gambar  tidak terhapus, buka pengaman kaset. Bila ingin merekam lagi, tutup pengaman kaset.